Kamis, 23 Januari 2014

KRISTALISASI SEKTE SIVASIDDHANTA I


Kristalisasi sekte-sekte yang ada di Bali menjadi sekte Sivasiddhanta dalam bentuk Panca Yadnya. Buktikan kalau benar dan salahkan kalau salah!
Jawabannya :
Benar.
Buktinya :
Pada abad IX di Bali pernah ada sekte-sekte menurut pendapat Dr. Goris meliputi : Sivasiddhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa dan Sogatha. Diantara sekte-sekte tersebut yang paling dominan pengaruhnya di Bali adalah sekte Sivasiddhanta dan ajarannya termuat dalam lontar Bhuanakosa. Sekte Siva memiliki cabang yang banyak antara lain : Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Sivasiddhanta yang paling besar pengikutnya. Kata Siddhanta berarti inti atau kesimpulan, jadi Siva siddhanta adalah kesimpulan dari ajaran Sivaisme. Sivasiddhanta ini mengutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siva, Sada Siva, dan Siva. Siva Siddhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.
Sekte Pasupata juga merupakan sekte pemuja Siva. Bedanya dengan Siva Siddhanta tampak jelas dalam cara pemujaannya. Cara pemujaan sekte Pasupata dengan menggunakan Lingga sebagai simbol tempat turunnya/berstananya Dewa Siva. Jadi penyembahan Lingga sebagai lambang Siva merupakan ciri khas sekte Pasupata. Perkembangan sekte Pasupata di Bali adalah dengan adanya pemujaan Lingga.
Sekte Waisnawa di Bali dengan jelas diberikan petunjuk dalam konsepsi Agama Hindu di Bali tentang pemujaan Dewi Sri yang dipandang sebagai pemberi rezeki, pemberi kebahagiaan dan kemakmuran. Di kalangan petani di Bali, Dewi Sri di pandang sebagai dewanya padi yang merupakan keperluan hidup yang utama. Buktinya berkembang sekte Waisnawa di Bali yakni dengan berkembangnya warga Rsi Bujangga.
Sekte Bodha dan Sogatha di Bali dibuktikan dengan adanya penemuan mantra Bhuda tipeyete mentra dalam zeal meterai tanah liat yang tersimpan dalam stupika. Stupika seperti itu banyak diketahui di Pejeng, Gianyar.
Sekte Brahmana menurut Dr. R. Goris seluruhnya telah luluh dengan Siva Siddhanta. Di India sekte Brahmana disebut Smarta, tetapi sebutan Smarta tidak dikenal di Bali. Kitab-kitab Sasana, Adigama, Purwadigama, Kutara, Manawa yng bersumberkan Manawa Dharmasastra merupakan produk dari sekte Brahmana.
Dalam sekte Sora dibuktikan bahwa ada pemujaan terhadap Dewa Surya sebagai Dewa Utama yang dilakukan sekte Sora. Sistem pemujaan Dewa Matahari yang disebut Suryasewana dilakukan pada waktu matahari terbenam menjadi cirri penganut sekte Sora
Sekte Gonapatya adalah kelompok pemuja Dewa Ganesa. Adanya sekte ini dahulu di Bali terbukti dengan banyaknya ditemukan arca Ganesa baik dalam wujud besar maupun kecil. Ada berbahan batu Padas atau dari logam yang biasanya tersimpan dibeberapa pura. Fungsi arca Ganesa adalah sebagai Wigna, yaitu penghalang gangguan.
Sekte Bhairawa adalah sekte yang memuja Dewi Durga sebagai Dewa Utama. Pemujaan terhadap Dewi Durga di Pura Dalem yang ada di tiap desa pakraman di Bali merupakan pengaruh dari sekte ini. Pemujaan terhadap Ratu Ayu (Rangda) juga merupakan pengaruh dari sekte Bhairawa ini. Dan sekte ini menjadi satu sekte wacamara yang mendambakan kekuatan magic yang bermanfaat untuk kekuasaan duniawi.
Ada Sembilan sekte yang pernah berkembang pada masa Bali Kuna antara lain : sekte Pasupata, Bhairawa, Siva Siddhanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya.
Jika dihubungkan dengan upacara Panca Yadnya di Bali banyak digunakan sarana atau alat upacara disetiap sekte seperti pemujaan Lingga dan Yoni sebagai lambang purusha dan Pradhana(sekte Pasupata), dalam (sekte Waisnawa) dibuktikan dengan adanya pemujaan kepada Dewi Sri yang sekarang dikenal dengan upacara Tumpek Pengatag (tumpek uduh), penggunaan kendi yang ada di pura untuk tempat petirtaan (sekte Bodha dan Sogatha), penggunaan Rangda di Pura sebagai pratima Dewi Durga (sekte Bhairawa), pemujaan Dewa Ganesa dibuktikan bahwa tiap sekolah ataupun perguruan tinggi mendirikan patung Dewa Ganesa sebagai dewa penolak bahaya/bala (sekte Gonapatya),
Dari sekte yang ada kemudian agar tidak terjadi perselisihan antar sekte maka semua aliran di Bali di tampung dalam satu wadah yang disebut Siva Budha. Sebagai persenyawaan Siva dan Budha. Semenjak itu penganut Siva Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (Pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama :
a.       Pura Desa (Bale Agung)
     Untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan).
b.      Pura Puseh
      Untuk memuja kemuliaan Visnu sebagai perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
c.       Pura Dalem
      Untuk memuja kemuliaan Bhatari Durgha saktinya Bhatara Siva sebagai perwujudan dari Tuhan.
Ketiga Pura tersebut disebut pura Kahyangan Tiga yang menjadi lambang persatuan umat Siva Budha di Bali. Dalam samuan tiga juga dilahirkan suatu organisasi “Desa Pakraman” yang lebih dikenal sebagai Desa Adat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar