Senin, 27 Januari 2014

KAJIAN LONTAR WRHASPATI TATTWA


Kajian Lontar Wrhaspati Tattwa

I           Pendahuluan
             Wrhaspati Tattwa adalah sebuah lontar yang tergolong tua usianya. Lontar ini menguraikan ajaran tentang kebenaran tertinggi yang bersifat Siwastik yang diuraikan secara sistematik. Wrhaspati Tattwa terdiri dari 74 pasal/sloka yang menggunakan bahasa Sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sansekertanya disusun dalam bentuk sloka dan Bahasa Jawa Kunonya disusun dalam bentuk bebas (gancaran) yang dimaksudkan sebagai terjemahan atau penjelasan bahasa Sansekertanya. Lontar Wrhaspati Tattwa merupakan sebuah lontar mengandung ajaran samkya dan yoga. Bagian yang mengajarkan pembentukan alam semesta beserta isinya mengikuti ajaran samkya dan bagian yang mengajarkan etika pengendalian diri mengambil ajaran yoga.
          Secara etimologi Vrhaspati tattwa berasal dari kata “Whraspati” dan “Tattwa”, pengertian Wrhaspati adalah nama seorang bhagawan di sorga,,hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam Wrhaspati Tattwa Sloka 1 yang berbunyi sebagai berikut:
          Irikang kala bana sira wiku ring swarga
          Bhagawad Whraspati ngaran ira
          Sira ta maso mapuja di Bhatara.

Terjemahannya:
Pada saat itu ada seorang petapa di sorga bernama Wrhaspati, Ia datang dan memuja Hyang Iswara ( Putra dkk, 1998 : 1 ).

          Kemudian menurut Watra (2007 : 1) Tatwa berasal dari bahasa sansekerta. Tattwa memiliki berbagai pengertian seperti : kebenaran, kenyataan, hakekat hidup, sifat kodrati, dan segala sesuatu yang bersumber dari kebenaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa Wrhaspati Tattwa berarti ajaran kebenaran atau hakekat kebenaran dharma dari Bhagawan Wrhaspati.
          Wrhaspati Tattwa berisi dialog antara seorang guru spiritual yaitu Sang Hyang Iswara dengan seorang sisya beliau yaitu Bhagawan Wrhaspati. Iswara dalam konsep pengider-ider di Bali adalah Dewa yang menempati arah timur. Iswara tidak lain adalah aspek dari Siwa sendiri. Di dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan bahwa Hyang Iswara berstana di puncak Gunung Kailasa yang merupakan puncak gunung Himalaya yang dianggap suci. Sedangkan Bhagawan Wrhaspati adalah orang suci yang merupakan sebagai guru dunia (guru loka) berkedudukan di Sorga. Dalam dialog tersebut, Sang Hyang Iswara mencoba menjelaskan kebenaran tertinggi tentang Siwa kepada Bhagawan Wrhaspati dengan metode tanya jawab.
            Ajarannya ini diterjemahkan dalam 74 sloka berbahasa Sansekerta yang di terjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno. Wrhaspati Tattwa merupakan naskah jawa kuno yang bersifat realistis. Di dalam menyajikan ajarannya dirangkum dalam suatu mitologi yang tujuannya untuk mempermudah ajaranitu dimengerti.Mengingat ajaran filsafat atau Tattwa yang tinggi seperti ini memang sulit untuk dimengerti

II.        Pembahasan
2.1       Karma Wasana
            Wasana artinya perbuatan yang dilakukan oleh manusia di dunia ini. Ia menerima hasil perbuatannya itu pada kelahirannya yang baru, apakah hasilnya itu baik atau buruk. Perbuatan apapun yang dilakukan olehnya, pada akhirnya pasti akan menghasilkan buah. Seperti halnya periuk yang berisi hinggu (getah damar) walaupun hinggu itu telah habis dan periuk itu telah di gosok dan cuci, baunya tetap tercium, karena bau itu tetap melekat pada periuk. Inilah yang dinamakan vasana. Demikian halnya dengan wasana perbuatan (Karma Wasana). Vasana itu ada dalam atman, ia melekat padanya. Ia menodai atau mewarnai atman itu. Atman yang ternoda disebut Raga. Jadi Wasana menghasilkan Raga (Putra dkk, 1998 : 4).
Oleh karena itu setiap perbuatan orang akan membuahkan Karma Wasana. Wasana yang telah mewarnai atman akan menghasilkan Karma Wasana dan Karman. Keduanya itu kemudian membawa kelahiran yang berbeda-beda (Misalnya yang mempunyai sifat dewa) melahirkan dewa (devayoni), vidhyadhara (vidhyadhara yoni, raksasa (raksasayoni), daitya (daityayoni), naga (nagayoni). Sangat banyak yoni yang terjadi, yang merupakan sumber kelahiran. Oleh karena itu dalam fisik yoni-yoni itu berbeda-beda. Adapun yang diperbuat oleh pikiran pada yoni yang terdahulu, ia merupakan keinginan. Keinginan ini merupakan karma yang terjadi terus menerus. Apabila yang dilakukan itu suatu perbuatan jahat, maka atman akan terlempar ke neraka, di mana ia akan mengalami bermacam-macam siksaan. Bila akibat dari perbuatan jahat itu telah berakhir, maka atman akan lahir menjadi binatang yang rendah. Sebaliknya bila perbuatannya baik, ia akan lahir di surga dan mengalami bermacam-macam kenikmatan. Setelah masa yang menyenangkan itu berakhir ia akan lahir sebagai putra raja atau orang yang hidup makmur. Ia dapat ilmu yang tinggi. (Putra, 1998 : 4).
Dapat dijumpai juga seperti orang buta yang tidak mengetahui wujud gajah yang sesungguhnya, demikian juga manusia itu diliputi oleh kebingungan, kemabukan itulah sebagai kegelapannya. Tattwa itu umpama gajah yang dianggap sebagai kepala, gading, belalai, perut, kaki dan ekor. Ilmu pengetahuan dan sastra itu banyak adanya yang dikembangkan oleh Sang Hyang Wisesa, itulah yang menjadikan bingung dan terlena, saling tindih-menindih, tidak tahu mana yang mulia mana yang utama, tidak tahu mana atas dan mana bawah, tidak tahu kurang dan lebih, tidak tahu pergi dan datang. Pikiran yang demikian itu disebut bingung yang tidak akan berhasil mencapai tujuan.

2.2       Cetana dan Acetana
Tattwa itu yaitu Cetana dan Acetana. Cetana yaitu pengetahuan (jnanasvabhava), tidak terpengaruh oleh ketidak-sadaran dan bersifat abadi (nitya), artinya tetap kokoh, tidak dapat disembunyikan. Itulah yang disebut dengan Cetana. Begitu pula dengan Acetana yang berarti tanpa pengetahuan, ibarat batu. Itulah yang dinamakan Acetana.
Jika Cetana dan Acetana bertemu maka akan lahirlah seluruh Tattwa yaitu Tattwa asal (Pradhana Tattwa), Triguna Tattwa, Budhhi Tattwa, Ahangkara Tattwa, Bhayendriya Tattwa, Karmendriaya Tattwa, Pancamahabhuta Tattwa. Ada tiga bentuk Cetana yaitu Paramaiswa Tattwa, Sadasiwa Tattwa dan Siwa Tattwa (Putra dkk, 1998 : 9).

2.2.1    Paramasiwa Tattwa
            Penjelasan tentang Paramasiwa Tattwa disampaikan dalam sloka 7 sampai sloka 10 yang berbunyi :
            Aprameya bhatara, tan pangen-angenan, apa hetu, ri kadadinyan ananta, tan pahingan, anirdesyam, tan patuduhan, ri kadadinyan tan palaksana, anaupamyam, tatan papada, ri kadadinyan tan hana pada nira juga, anamayam, tatan keneng lara, ri kadadinyan alilang, suksma ta sira sarwagata, kehibekan tikang rat denira, sahananya kabeh, nityomideng sadakala, ri kadadinya n tan pasangkan, dhruwam, menget ta sira, ri kadadinyan tan polah, umideng, sadakala, awyayam, tatan palwang, ri kadadinyan pariprna, Isvara ta sira, Isvara ngaranya ri kadadinya n prabhu ta sira, sira ta pramana tan kapramanan, nihan yang paramasivatattva ngaranya.
            Nihan yang sadasivatattva ngaranya, I sor ning paramasivatattva.

Terjemahan:
            Iswara tidak dapat di ukur, tidak berciri, tidak dapat dibandingkan, tidak tercemar, tidak tampak, ada dimana-mana, abadi, tetap, tidak berkurang (sloka 7). Ia tidak dapat diukur dalam arti tanpa akhir. Ia tidak berciri karena ia tidak mempunyai cirri. Ia tidak dapat dibandingkan, karena tidak ada yang lain seperti Dia. Ia tidak tercemar, karena ia tidak bernoda (sloka 8).
Ia tidak tampak karena ia tidak bisa dilihat. Ia ada di mana-mana, karena ia ada dalam segala benda. Ia abadi karena ia tidak berbentuk. Ia tetap karena ia tidak bergerak (sloka 9).
            Ia tidak berkurang karena ia tetap utuh. Ia tetap tenang Sivatattwa ini meliputi seluruhnya (sloka 10)
            Tuhan tidak dapat dibayangkan, apremaya. Karena bersifat ananta yaitu tidka terbatas. anirdesyam berarti tidak dapat diberi batasan karena ia mempunyai ciri. anaupamya artinya tidak dapat dibandingkan, karena tidak ada yang menyamainya. Anamaya artinya tidak terkena penyakit atau sakit karena Ia suci. Ia suksma karena Ia tidak dilihat. Ia sarvagata karena Ia ada dalam segalanya, Ia memenuhi seluruh jagat raya.  Ia dhruva yaitu kokoh, karena Ia tidak bergerak, tetap stabil. Ia avyaya yaitu Ia tidak pernah berkurang, karena Ia selalu utuh. Ia adalah Iswara. Ia disebut Iswara karena ia sebagai guru. Ia mengatur seluruhnya, namun tidak di atur (oleh siapa-siapa). Inilah yang dinamakan Paramasiwa Tattwa.
Sekarang kujelaskan apa yang disebut Sadasiwa Tattwa yang lebih rendah daripada Paramasiwa Tattwa. (Putra dkk, 1998 : 9-10).

2.2.2    Sadasiwa Tattwa
            Penjelasan tentang Sadasiwa Tattwa disampaikan dalam sloka 11 sampai sloka 13 yang berbunyi :
            Sawyaparah, bhatara sadasiva sira, hana padmasana pinaka palungguhanira, aparan ikang padmasana ngaranya sakti nira, sakti ngaranya, vibhusakti, prabhusakti, jnanasakti, kriyasakti, nahan yang cadusakti.

Terjemahan :
            Sadasiwa aktif, berguna, bersinar, terdiri dari unsur kesadaran, mempunyai kedudukan dan sifta-sifat. Ia memenuhi segalanya. Ia di puja karena tanpa bentuk ( sloka 11).
            Ia maha pencipta, pelebur, pengasih, bersinar, abadi, maha tahu, dan ada di mana-mana (sloka 12).
            Bagi orang yang tak punya tempat berlindung, Ia merupakan saudara, ibu dan ayah. Ia merupakan penawar dari segala rasa sakit dan membebaskan manusia dari ikatan tumimbal lahir. (sloka 13)
            Padmasana sebagai tempat duduk Beliau, sakti-Nya meliputi: Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jnana Sakti dan Kriya Sakti. Disebut Cadu Sakti yaitu empat kemahakuasaan Sang Hyang Widhi. (Putra dkk, 1998 : 10-11).

1.4 Mayasira Tattwa, Maya Tattwa dan Pradhana Tattwa
Wibhu Sakti, Beliau menciptakan dunia seluruhnya.  Prabhu Sakti artinya beliau tanpa tandingan di seluruh dunia. Cadu Sakti adalah bunga Teratai yang bernyala-nyala di tengahnya, tempat berstananya Bhatara pada saat Beliau berwujud. Adapun guna Beliau adalah Durasrawana artinya Beliau mampu mendengar suara yang jauh dan dekat. Durasarwajnana artinya Beliau mengetahui pikiran yang jauh mampu dekat. Duradarsana artinya Beliau melihat yang jauh maupun dekat. Anima, laghima, mahima, prapti, prakamya, isitwa, yatrakamawasayitwa merupakan bagian-bagian dari astaiswarya yang merupakan sifat Bhatara. Mayasira Tatwa tempat Sang Hyang Astawidyasana seperti : Ananta, suksma, Siwatama, Ekarudra, Ekanetra, Trimurti, Srikantha, Sikhandi. Di bawah Mayasira Tattwa adalah sunya sebagai badannya acetana, sama dengan Siwa Tattwa, tetapi bersifat acetana, itulah kerendahannya dari Siwa Tattwa.
Pradhana Tattwa, wujud besar maya, sunya acetana sebagai badannya. Dipertemukan Atma Tattwa dengan Pradhana Tattwa oleh Bhatara, maka atma yang dalam keadaan acetana menjadi hilang atau lupa. Digerakkannya Pradhana Tattwa melahirkan Triguna Tattwa yaitu Sattwam, Rajah, Tamah. Pikiran yang serba ringan dan jernih disebut satwa, pikiran yang cepat gerakannya disebut dengan rajah, dan pikiran yang gelap-gelap disebut dengan tamah. Pikiran yang menyebabkan atma menikmati sorga, jatuh ke neraka, menjadi binatang, lahir sebagai manusia dan mencapai moksa atau kelepasan. Prilaku yang sungguh-sungguh jujur dan kokoh, ia mengetahui perbedaan antara sesuatu dan batas-batasnya, ia memahami Iswara Tattwa, pandai lah ia, manis tutur katanya dan indah badannya itu semua merupakan ciri-ciri pikiran Sattwika. Prilaku bengis, pemarah dan menakutkan, congkak, suka memperkosa, panas hati, lobha, melakukan perbuatan kasar dengan tangan, melakukan perbuatan kasar dengan kaki, berkata-kata kasar, merupakan cirri-ciri dari pikiran Rajah. Pikiran dihinggapi rasa takut, lelah tidak suci, suka mengantuk, cenderung untuk berkata bohong, ingin membunuh, tidak hati-hati dan murung merupakan cirri-ciri dari Tamah.
Apabila ketiga unsur itu sama, maka kita akan lahir sebagai manusia, karena ketiga unsur itu memenuhi keinginan, masing-masing rajah berkata: “saya mau berbuat jahat”. Sattwa menghalangi. Tamah berkata: “Saya lelah dan tidak ingin berbuat apa-apa”. Rajah membuat kita bergerak. Sattwa bersama rajah berkata: “Saya ingin berbuat baik”. Maka dicegah oleh tamah. Demikian kerja ketiga sifat itun silih berganti. Karena itu atman tidak berbuat baik maupun buruk. Namun apabila atman berbuat baik dan buruk karena pengaruh ketiga sifat itu maka kita akan lahir sebagi manusia. Sang Hyang Widhi telah memperhatikan antara surga dan neraka merupakan tempat pensucian atman. Apapun yang dikerjakan dalam kelahiran sebagai manusia, Sang Hyang Widhi memperhatikannya, oleh karena Ia menjadi saksi dari segala perbuatan manusia baik maupun buruk.
Apabila Tamah yang lebih besar mempengaruhi pikiran maka akan menyebabkan atma menjadi binatang. Ada lima jenis binatang, seperti: pasu, mrga, paksi, sarisrpa, mina. Pasu adalah binatang piaraan di desa, seperti: sapi, maka akan menyebabkan atma menjadi binatang. Mrga adalah jenis binatang yang ada di dalam hutan. Paksi adalah segala jenis binatang burung yang dapat terbang. Sarisrpa adalah segala jenis binatang yang bergerak dengan dadanya. Mina adalah semua jenis binatang yang ada di dalam air. Dari Triguna buddhi, buddhi banyak jenisnya, antara lain: dharma, jnana, wairagya, aiswarya. Adapun kebalikannya yaitu adharma, ajnana, awairagya, anaiswarya yang di sebut dengan pancawiparya.
1.    Dharma
Perbuatan mulia, yajna, tapa, dana punia, meninggalkan keluarga dan hidup dari sedekah, yoga, inilah yang disebut dharma. Sila artinya melakukan perbuatan yang baik. Yajna artinya melaksanakan pemujaan api, tapa artinya menjadi viku yang melakukan tapa-brata. Bhiku artinya seorang yang didiksita, yoga artinya mekukan meditasi. Itulah beberapa cirri dharma.
2.    Jnana
Pengindraan langsung, menarik kesimpulan, ajaran-ajaran agama dari orang yang telah mempelajarinya, inilah tiga cara untuk memperoleh pengetahuan. Demikianlah orang yang mengetahui tentang tiga pramana, yaitu: pratyaksa, anumana, agama. Pratyaksa artinya sesuatu yang dapat dilihat atau diraba. Anumana artinya seperti asap yang terlihat dari jauh, menandakan adanya api (api itu sendiri tidak tampak). Inilah yang disebut anumana. Agama artinya ajaran para guru. Orang yang mengetahui ketiga pramana ini, pratyaksa, anumana dan agama disebut dengan istilah samyag-jnana.
3.    Vairagya
Ketidak-terikatan terhadap kesenangan, baik yang dilihat maupun yang didengar, pada badan yang sehat dinamakan vairagya. Ketidak-senangan kepada yoga tidak berarti ketidak-terikatan (arti sebenarnya adalah orang yang tidak senang kepada yoga bukan yogin melainkan orang yang menganut vairagya). Ada kesenangan dari yang dilihat seperti halnya raja yang berkuasa, ada kesenangan dari yang didengar, seperti kahyangan yaitu tempat para Dewa. Kesenangan seperti itu, yang dilihat maupun yang didengar tidak diinginkannya. Bahkan menjadi rajapun ia tidak ingin. Lepas dari keinginan seperti itu dinamakan vairagya.
Aiswarya
            Bhoga artinya segala yang dimakan dan diminum. Upabhoga artinya segala yang dipakai. Paribhoga punya istri dan pembantu. Orang yang memiliki semua itu aiswarya. Adharma artinya buddhi yang tidak terlekati oleh dharma.
Ajnana artinya buddhi yang tidak terlekati oleh anumana, agama, dan pratyaksa. Awairaragya artinya keinginan  buddhi yang tenggelam pada sesuatu yang bernilai nista, madya, dan utama (rendah, sedang, dan tinggi). Anaiswarya artinya pikiran yang terlekati oleh bhoga, upabhoga dan paribhoga.
Orang yang memiliki samyagjnana (pengetahuan sempurna), ia adalah orang yang utama, karena ia mencapai moksa tidak terlahirkan kembali, memiliki empat kekuasaan (cadu sakti), ia disebut telah sampai pada janmawasana (penjelmaan) terakhir, berpulang ke dunianya Siwa, cetananya (kesadarannya) manunggal denngan Bhatara.
Orang yang telah mencapai wairagya (ketidakterikatan), ia kembali ke dunia prakerti, bagaikan enaknya tidur tanpa mimpi-mimpi, demikianlah kesenangan dan kebahagiaan yang ditemukan olehnya. Ia kemudian menjadi Dewata. Demikian pahala dari wairagya.
Bhagya adalah perilaku budhi yang selalu senang, kendati pun tidak menemukan kesenangan, katanya: “Ah, (barangkali) tidak ada perbuatan baikku dahulu, sehingga tidak memperoleh kesenangan sekarang, sebab itu (aku) mengusahakan perbuatan baik, agar tidak begini pada penjelmaan berikutnya”. Tusti juga namanya. Dengan tidak berusaha keras, tetapi menunggu sebentar, maka akan datanga kemudian, disebut juga tusti. Demikianlah jenis-jenis tusti yang dapat  menghambat pengetahuannya karena perilakunya senantiasa senang. Inilah  yang disebut astasiddhi.
Dana artinya orang yang mampu memberi. Adhyayana artinya orang yang mampu mempelajari kitab suci. Tarka artinya pengetahuan untuk menafsirkan dengan tidak keliru disebut bahyasiddi (kemampuan jasmani).
Yang disebut adhyatmikasiddhi (kemampuan rohani). Orang yang mampu melenyapkan duhka telu (tiga kesengsaraaan): adhyatmika duhka, adhidaiwika duhka, adhibautika duhka. Adhyatmika duhka adalah sakit yang berasal dari pikiran. Adhidaiwika duhka adalah sakit karena disambar petir, gila, epilepsy, kerasukan roh halus, dan semua jenis sakit yang dating dari Dewa. Adhibautika duhka adalah sakit karena kerasukan roh, dikenai ilmu hitam, teluh, dan segala jenis sakit yang berasal dari bhuta. Orang yang uttamasiddhi adalah Sang Yogiswara yang telah mencapai gunanima yang utama.
Panca Tam Matra
            Ada angin kencang, butir-butir angin itu terasa meresap pada kulit, itulah yang disebut dengan sparsatanmatra. ada yang disebut petang, setelah matahari terbenam, ada cahayanya berbekas, butir-butir cahaya  yang tampak itu, itulah yang disebut rupatanmatra. Yang disebut rasatanmatra adalah yang dimakan terasa manis atau pahit, adapun butir-butir rasa yang dirasakan itu tidak segera hilang ia berbekas pada lidah, ada sisanya yang tertinggal, itulah rasatanmatra namanya. Gandhatanmatra yaitu ada kayu cendana yang dibakar, butir-butir baunya yang dicium itulah yang disebut gandhatanmatra. Demikianlah yang disebut pancatanmatra.
Panca Maha Bhuta
            Dari pancatanmatra lahir panca maha bhuta yakni ether (akasa) lahir dari sabdatanmatra. Angin (vayu) lahir dari sparsatanmatra. Cahaya (teja) lahir dari gandhatanmatra. Apah (air) lahir dari rasatanmatra. Prtiwi (tanah) lahir dari Gandhatanmatra. Itulah yang disebut pancamahabhuta. Berwujud nyata dapat dilihat dan dipegang. Demikianlah sifat seluruh Tattwa-tattwa di atas menyusupi tattwa di bawahnya.
Sadrasa
            Adapun rasa itu enam jenisnya antara lain: lawana, amla, katuka, tikta, kasaya, madhura. Lawana artinya asin. Amla artinya asam. Katuka artinya pedas. Kasaya artinya sepet. Madhura artinya manis. Tikta artinya pahit. Demikianlah yang disebut sadrasa (rasa yang enam).
Asentriya
            Srotendriya terletak pada telingga. Twagindrriya terletak pada kulit, menyebabkan atma merasakan panas dan dingin fungsinya. Caksurindriya terletak pada mata, menyebabkan atma melihat rupa dan warna fungsinya. Jihwendriya terletak pada lidah, menyebabkan atma dapat merasakan rasa yang enam fungsinya. Granendriya terletak pada hidung, menyebabkan atma dapat berfungsi mencium bau busuk dan harum. Wagindriya terletak pada tangan, menyebabbkan atma dapat mengambil atau memegang fungsinya. Padendriya terletak pada kaki, menyebabkan atma dapat bejalan fungsinya. Payuindriya terletak pada dubur, menyebabkan atma dapat berak, pletus fungsinya. Upasthendriya terletak pada venis dan vagina, menyebabkan atma dapat kencing dan mengeluarkan sukla dan swanita fungsinya. Demikianlah prihal dasendriya dalam badan.
            Badan itu diumpamakan hiasannya kereta. Perbuatan baik dan buruk ibarat dunia, yang berputar antara sorga dan ]neraka yang disebut “cakraning gilingan” (roda yang selalu berputar pada sumbunya). Atma ibarat lembu yang menarik kereta. Bhatara Iswara sebagai sais, menyuruh lembu itu menarik kereta, tidak mau ia tidak melaksanakan pertintah, karena itu pelayan yang seorang akan kepayahan.
Nadi dalam Badan
            Ada sepuluh nadi besar, seperti : ida, pinggala, sumsumna, gandhari, hasti, jihwa, pusa, alambusa, kuhu, sangkhini, itulah (kesepuluh) nadi besar itu. Ida adalah tenggorokan kanan. Pinggala adalah tenggorokan kiri. Sumsumna adalah tenggorokan tengah.

Dasa Wayu
            Semua nadi itu sama-sama berisi wayu (daya hidup), sepuluh banyaknya yaitu :prana, apana, udana, wyana, naga, kurma, krkara, dewadtta, dhananjaya. Adapun penjelasan sebagai berikut:
            Daya hidup yang disebut prana ada pada mulut dan hidung, fungsinya untuk bernafas, pada dada bawahnya, ia menggerakkan daya hidup (wayu) seluruhnya.
Samana berada pada hati, fungsinya di sana mengolah sari-sari yang dimakan menjadi empedu.
Udana berada pada ubun-ubun, fungsinya di sana adalah membuat berkedipnya mata dan berkerutnya dahi serta menumbuhkan rambut.
Wyana ada pada seluruh persendian, fungsinya disana menjadikan berjalan, melambat, memegang, menggerakkan semua persendian pada badan dan membuat lupa, marah dan usia tua.
Naga fungsinya menyemburkan. Daya hidup si kurma membuat gemetar. Sedangkan daya hidup yang disebut membuat besin, Dewadata membuat menguap, Dhananjaya membuat suara. Inilah yang disebut dengan Dasa wahyu.
Apabila kita pengikatnya, itu sebabnya atma dengan damai mengembara ke dunia lain, mana yang disebut dengan dunia lain adalah Pancapada (lima dunia0 yang mana merupakan stananya atma pada saat berwujud.
Ada yang disebut Jagrapada, swapnapada, susuptapada, turyapada dan turyantapada. Pada adalah dunia atau tempat berstananya atma yang lima jumlahnya, karena itu disebut pancapada. Jagrapada artinya terjadi, tiada terhingga keterjagaannya, saat demikian atma menjadi jelas terlihat dan dapat dirasakan. Adapun Swapnapada adalah tidak jelas bagaikan maya (bayangan) yang ada dalam air, bila tenang airnya maka akan tampaklah bayangannya, bila bergolak airnya maka bayangannya itu tidak jelas dilihat. Demikian atma itu tidak akan jelas, karena segala pada (stana) sama dengan atma. Sang Taijasa namanya bila demikian. Apabila dalam susuptapada, tatkala tidur nyenyak, keadaan sepi itu, tidak berkesadaran, nirwana, nisprakamya, tak tmpak dan tidak terpikirkan susuptapada itu. Demikianlah atma hilang kesadarannya bercampur dengan acetana, tidak berkesadaran, lupa sebagai sifatnya.

1.15   Hakekat Ketuhanan
          Bhagawan Wrhaspati berkata : katanya : “atma yang ada dalam jagrapada, dalam tidur lenyap (kesadarannya), lupa ia pada dunia seluruhnya, tidur itu bagaikan mati, karena wiparit (berlawanan dengan hidup), kemungkinan sungguh terus mati, lenyap tidak bangun lagi, karena hilng kesadaran dan atma itu.
          Itulah sebabnya pikiran itu tiak patut dianggap utama (wisesa). Adapun yang utama (wisesa) adalah lupa, karena tidak mengalami suka duka. Bukanlah tidak ada, tidak ada bdan Beliau, tidak patut itu dikatakan Bhatara, karena tidak ada ukuran yang dapat menjelaskan. Itulah yang disebut utama, karena apabila ada Bhatara (tampak) dapat kau tangkap (pegang), dan terkena penderitaan. Apabila dianggap tidak ada (maya) seperti pendapatmu, mungkinkah ada dunia seluruhnya, demikian juga jiwamu? Itulah tujuan pancawayu (lima jenis daya hidup) itu diajarkan tadi, itulah sebagai pengikat atma, yang menyebabkan orang yang tidur tidak terus mati. 

1.16   Penegasan tentang Sifat Ilmu Pengetahuan Kesunyatan
          Dua pengertian dimaksud adalah tahu dan dikehendki. Bila ada tahu, ada diketahui. Itu sebabnya ada tiga perbedaan (tingkatan) cetana yang telah disebutkan di depan, yaitu sebagai penyempurnaan yang dahulu, sebagai penguat semua Tattwa seperti : Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa, Siwa Tattwa. Inilah sarana untuk menemukan Sang Hyang Wisesa (Hyang Widhi) yang merupakan tujuan utama.

1.17   Tiga Sarana untuk Mencapai Kelepasan
          Tiga macam sarana yang harus dikerjakan oleh orang yang ingin mencapai kelepasan, antara lain : Jnanabhyudreka, Indriyayogamarga, Trsnadosaksaya. Ketiganya itu patut dikerjakan.      

1.18   Sadangga Yoga
          Adapun Sang Yogiswara, beliau mengikuti Sang Hyang Prayogasandhi, oleh karena Sang Hyang Wisesa tiada berciri-ciri, tidak dapat dibayangkan dalam wujud real, sulit untuk dikatakan, itulah sebabnya ada tiga pramana, antara lain : gurutah, sastratah dan swatah. Gurutah adalah ajaran yang diberikan oleh guru. Sastratah adalah ajaran yang diperoleh melalui alat sastra (Kitab Suci). Swatah artinya melalui dirinya sendiri menemukan Sang Hyang Wisesa. Inilah yang disebut yoga, enam jenis yoga yang disebut sadanggayoga. Adapun yang disebut sadanggayoga, alat bagi orang yang ingin menemukan Sang Hyang Wisesa. Pratyaharayoga, dhyanayoga, pranayamayoga, dharanayoga, samadhiyoga, itulah yang disebut sadanggayoga. Adapun penjelasan dari masing-masing bagian tersebut antara lain:
          Seluruh indriya ditarik dari obyeknya dan citta, buddhi dan manah tidak diberikan mengembara, dijaga oleh citta yang suci. Itulah yang disebut dengan pratyaharayoga. Pikiran yang tidak mendua, tidak berubah, tetap suci , tenang senantiasa tidak terhalang. Itulah yang disebut dhyanayoga. Tutup semua lubang (yang ada dalam tubuh), seperti : mata, hidung, mulut, telinga. Udara yang telah dihisap tadi, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Dan dapat dikeluarkan melalui hidung, namun dengan cara perlahan-lahan uadara dikeluarkan. Itulah yang disebut pranayamayoga. Ada suara omkara (AUM) terletak dihati, itulah harus dikuasai dan tidak terdengar lagi tatkala melakukan yoga, itulah yang disebut dharanayoga.
 Sang Hyang Paramartha, tidak ada suara dan sama-sama bersih adanya. Itulah yang disebut dengan tarkayoga.
            Catur kalpa berarti tahu dan diketahui, pengetahuan dan mengetahui, itulah yang disebut catur kalpa. Semua itu tidak ada pada Sang Yogiswara. Itulah yang disebut samadhiyoga.
            Demikianlah yang disebut sadanggayoga, sebagai pengetahuan Sang Pendeta, sehingga ditemukan Sang Hyang Wisesa. Sifat keyogiswaraan demikian dijaga oleh dasasila.
1.19 Dasa Sila
            Ahimsa, Brahmacarya, Satya, Awyawaharika, Astainya, Akrodha, Guru Susrusa, Sauca, aharalaghawa, Apramada. Usahakanlah jiwa itu sebagai alat untuk melaksanakan yoga samadhi untuk mencapai Sadhana. Yang disebut sadhana adalah yogamarga-jalan yoga-sebagai dasar adalah dasasila. Dasasila itu membangunkan yoga, hal itu disebut menepati dan ditempati. Jagrapada dipertemukan dengan turyapada. Disitulah ada saptangga, saptagni dan saptamrta. Inilah yang disebut Saptangga.
            Tanah (prthiwi), air (apah), cahaya (teja), udara (wayu), ether (akasa), akal (budhi) dan pikiran (manah) itulah yang disebut saptangga. Yang disebut saptagni. Adapun bagian-bagiannya yakni: Ghrata artinya alat penciuman, Rasayita artinya alat perasa enam jenis rasa.drasta artinya alat penglihatan, Sprasta artinya yang digunakan merasakan sentuhan. Srota artinya alat pendengar. Manta artinya alat untuk berpikir. Bodha artinya alat untuk mengetahui. Itulah yang disebut Saptagni. Jenis-jenis Tattwa yang sepatutnya diketahui oleh Sang Yogiswara, sehingga dapat membakar kekotoran yang ada dalam badannya. Inilah yang disebut Saptamrta. Adapun bagian-bagiannya sebagai berikut:
            Suara didengar, Sentuhan dirasakan, Bentuk dilihat, Rasa dikecap, Bau dicium, Gagasan dipertimbangkan dan Pengetahuan dipelajari. Inilah yang disebut Saptamrta. Usahakanlah semua itu, kesemuanya dan kamawasana itu diketahui oleh Sang Yogiswara.
1.20 Siwagni
            Segala derita Sang Yogiswara dan seluruh wasana dibakar oleh Bhatara dalam apinya Siwa. Setelah karma wasana itu musnah, maka tidak bergerak, teguh samadhinya. Itu sebabnya Sang Yogiswara bersifat “cintamani” apa yang dikehendakinya datang, apa yang diinginkan terjadi.
1.21 Astaiswarya
            Sesungguhnya, dicapailah sifat-sifat Astaiswarya itu oleh beliau. Astaiswarya tersebut adalah: laghima, mahima, prapti, prakamya, isitwa, wasitwa yatrakamawasayitwa.
            Demikian juga Sang Yogiswara keluar masuk di bumi, tidak terhalang langkah-langkahnya, lalu lenyap badannya. Itulah yang disebut anima.
            Mula-mula badan beliau berat, kemuadian ringan sebagai kapuk, mampu mengelilingi bulatan bumi, tercapailah keinginan dan tujuan beliau. Itulah laghima namanya.
            Beliau pergi ke tempat lain, dipuja, disembah karena beliau adalah perwujudan penghormatan. Itulah mahima namanya.
            Setiap yang dikehendaki oleh Sang Yogiswara, akan segala sesuatu, dari karma wasananya sebagai pahalanya adalah kesenangan pada beliau, disitulah kesenengan itu dinikmati atau tiada terhalang oleh buah perbuatan baik, itu prapti namanya.
            Ia dapat mengalahkan Sang Hyang Brahma, Wisnu, Indra, Surya di istananya, apalagi Para Dewata. Karena Sang Hyang Widhi Yang Maha Agung ada pada Sang Yogiswara, itu karena Beliau mampu mengungguli para Dewata seluruhnya. Itulah yang disebut isitwa.
            Beliau dapat memerintahkan para Dewata, karena beliau yang memiliki dunia seluruhnya. Itulah wasitwa namanya.
            Pada saat demikian perwujudannya. Beliau dapat menghukum Dewa, Manusia, binatang, setiap yang berani pada Beliau. Itulah yang disebut yatrakamawasayitwa. Demikianlah yang disebut Astaiswarya yang kesemuanya merupakan pahala dari sifat dan perilaku

1.22 Hambatan Dalam Yoga
            Bila pemusatan pikiran sang Pendeta (Yogiswara) tajam, maka terbakarlah Tattwa yang ada dibawah Pradhana Tattwa, Samapai dengan Triguna Tattwa, terbakar oleh Samadhi (pemusatan pikiran) beliau. Semua itu adalah sahabat – sahabatnya sattwa. Inilah sahabat – sahabatnya rajah : ada seperti diayun – ayunkan badan beliau dirasakan tatkala beryoga, diangkat – angkat, ditekan badan beliau, dilemparkan badan beliau, digoyang – goyangkan, dibakar dan ringan. Semua itu adalah sahabat rajah.
            Inilah sahabat – sahabat tamah : ada seperti menjadi badan besar badan beliau tattkala beliau beryoga, berat badannya, dingin, kemasukan roh badannya, ada gelap, ada kebingungan, lupa,  menjadilah sifat cetananya. Itulah sahabat – sahabatnya tamah. Bila demikian sahabat yang ditemukan oleh beliau pada saat beryoga, waspadalah beliau, membuat obat – obatan luar. Itulah sebabnya badannya dilepaskan, dengan pengetahuannya yakni obat luar. Bebaskanlah dari badan pada saat samadhi, jangan memikirkan badan, jangan merasakan dan memikirkan sesuatu dalam badan, karena hal itu sengsara namanya. Itulah perilaku untuk mencapai kelepasan. Inilah Wrhaspati Tattwa.

II. Kajian Ajaran - ajaran Inti Siva Siddhanta Yang Terkandung Dalam Kitab Wrhaspati Tattwa
            Ajaran Siva Siddhanta di Bali sebagai sebuah kristalisasi dari semua paksa yang pernah berkembang di Bali memiliki sumber – sumber ajaran salah satu sumber ajarannya adalah Wrhaspati Tatwa. Wrhaspati Tattwa sebagai pustaka suci tradisional Bali memiliki nilai – nilai suci yang sarat dengan religius ajaran siwa (siwaistik). Siwaistik adalah sebuah personifikasi azas yang disebut Siwa-Sakti. Siwa adalah simbol Purusa atau Iswara atau disimbolkan dengan kiblat Timur warna putih. Sakti  adalah simbol Prakerti yang disimbolkan juga sebagai kiblat utara warna hitam. Siwa-sakti inilah pasangan dewata yang paling dimuliakan oleh penganut paham Siwa  (Yasa, dkk, 2008:31).
            Dari pemaparan diatas terkait dengan ajaran – ajaran inti Siva Siddhanta yang terkandung dalam Wrhaspati Tattwa, secara garis besar dapat penulis kaji nilai – nilai ajarannya sebagai berikut :
Wrhaspati Tattwa menyebutkan bahwa ada dua element tertinggi yang menjadi sumber adanya segala sesuatu yakni Cetana dan Acetana. Cetana merupakan unsur kesadaran (consciousnees) yang terdiri atas Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa dan Siwa Tattwa dan acetana merupakan unsur ketidaksadaran (unconsciousnees). Cetana telu yakni tiga tingkat kesadaran. Paramasiwa memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiwa menengah dan Siwatma terendah. Tinggi rendahnya tingkat kesadaran tergantung pada frekuensi pengaruh maya (          , 2006 :7 ; Pudja, 1983 : 7).
Sanghyang Widhi Paramasiwa adalah kesadaran tertinggi yang terbebas dari belenggu maya, karena itu Ia disebut nirguna brahman. Paramasiwa yang kesadarannya mulai tersentuh oleh maya. Pada saat itu Ia mulai tersentuh oleh sakti, guna dan swabhawaNya yang merupakan hukum kemahakuasaan Sanghyang Widhi Sadasiwa. Ia disimbulkan dengan bunga teratai sebagai stanaNya. Ia digambarkan dalam mantra AUM (OM) denga Iswara (I) sebagai kepala, Tatpurusa sebagai muka (TA), Aghora (A) sebagai hati, Bamadewa (BA) sebagai alat – alat rahasia, Sadyojata (SA) sebagai badan. Dewa Sakti, guna dan swabhawaNya, Ia aktif menciptakan segalanya karena itu, Ia disebut Saguna brahman (      , 2006 : 8).
Pada tingkat Siwatma Tatwa, saki guna dan swabhawaNya sudah berkurang karena dipengaruhi maya. Karena itu, Siwatma Tattwa disebut juga Mayasira Tattwa. Bilamana pengaruh maya sudah demikian besarnya terhadap Siwatma menyebabkan  kesadaran aslinya hilang dan sifatnya menjadi avidya. Apabila kesadarannya terpecah – pecah dan menjiwai semua mahkluk hidup termasuk manusia didalamnya maka Ia disebut Atma atau Jiwatma (        ,2006 : 8).
Meskipun Atma merupakan bagian dari Sanghyang Widhi (Siwa), namun karena adanya pengaruh maya (Pradhana Tattwa), maka Ia tidak menyadari asalnya. Hal inilah yang menyebabkan Atma mengalami sorga-neraka-samsara secara berulang – ulang. Reinkarnasi atma bergantung pada karma wasananya. Atma akan bersatu dengan asalnya apabila semua selaras dengan ajaran Catur Iswarya, Panca Yama Brata, Panca Niyama dan Astasiddhi. Untuk mengakhiri lingkaran reinkarnasi itu hendaknya menyadari hakekat Tuhan dalam dirinya. Melalui cara mempelajari tattwa (jnanabhjindreka), tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu (indriya-yogamarga) dan tidak terikat pada pahala – pahala perbuatan baik atau perbuatan buruk (trsnadosaksaya). Sebagai persyaratan untuk memperoleh kelepasan atau moksa. Selain itu, Wrhaspati Tattwa Tunggal tersebut yakni melalui  pemusatan pikiran pada Brahman melalui enam tahapannya yang disebut Sadanggayoga, karena yoga dapat hakekatnya didasari dan dibangun oleh Dasasila. Bilamana dalam segala karmanya bertentangan dengan ajaran – ajaran tadi, maka atma akan tetap berada dalam lingkaran samsara atau reinkarnasi (----, 2006:9)

PENUTUP
Kesimpulan
            Wrhaspati Tattwa termasuk kedalam salah satu pustaka suci yang didalamnya terkandung nilai – nilai ajaran suci yang sarat dengan religius tentang ajaran kebenaran tertinggi yakni Siwa (Siwaistik). Sumber ajaran ini merupakan hasil dialog antara Bhatara Siwa dengan Bhagawan Wrhaspati mengenai cetana dan acetana sebagai pasangan-beroposisi yakni Siwa-Sakti, Siwa-Maya, vidya-avidya, siang-malam, suka-duka dsb.
            Wrhaspati Tattwa mengajarkan cara untuk mencapai kelepasan atau kebebasan dari ikatan keduniawian melalui Sadanggayoga yakni enam jalan menghubungkan diri denganNya yang dilandasi atas etika moralitas disebut dengan Dasa Yama Brata terdiri dari Yama dan Niyama Brata. Naskah ini juga mengajarkan menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri.
Dengan mempelajari segala tattwa (jnanabhjindreka), tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu (indriya-yogamarga) dan tidak terikat pada pahala – pahala perbuatan baik atau perbuatan buruk (trsnadosaksaya). Sebagai persyaratan untuk memperoleh kelepasan atau moksa. Berkenaan dengan itu juga, harapan penulis dalam tulisan ini dikemukakan berdasarkan pertimbangan berikut. Perbuatan bukanlah kebaikan, apabila makna (kebaikan) teks Wrhaspati Tattwa dibiarkan berhenti pada terminal normatif, tanpa membawanya ke wilayah aplikatif, kedalam dunia fenomena (manusia). Artinya kebaikan itu lebih sebagai bukti daripada menjadi saksi. Perbuatan bukanlah kebaikan, jikalau manusia hanya baik dalam pikiran dan tidak dalam  tindakan. Swami Rama menegaskan bahwa pelaksanaan dalam bentuk perbuatan lebih baik daripada meyimpannya dalam bentuk pengetahuan hapalan yang hanya eksis dalam pikiran dan ucapan. Hal itu selaras dengan filsafat tindakan bahwa tindakan tanpa pengetahuan akan berbahaya dan sebaliknya pengetahuan tanpa tindakan akan sia – sia. Jadi, antara pengetahuan dengan tindakan harus seimbang adanya. Inilah semangat utama yang mengalirkan tulisan ini hendak memasuki wilayah – wilayah dunia praksis kehidupan.


Daftar Pustaka
Pudja, G, dkk. 1983. Tatwa Darsana. TKP : Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Buddha Departemen Agama
Anonim. 2006. Siwatattwa. Bangli : Pemerintah Kabupaten Bangli
Yasa, I Wayan Suka, dkk. 2008. Siwaratri (Wacana Perburuan Spiritual Dulu dan Kini). Denpasar : Fakultas Ilmu Agama UNHI Bekerjasama Dengan Penerbit Widya Dharma
Putra, I.G.A.G dkk. 1998. Wrhaspati Tattwa. Surabaya : Paramita.
Tim Penyusun. 2003. Siwa Tattwa. Denpasar : Pemerintah Prov. Bali Kegiatan Peningkatan Sarana Prasarana Kehidupan Beragama.
Watra, I Wayan. 2007. Pengantar Filsafat Hindu ( Tattwa I). Surabaya: Paramita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar